Catatan Perkuliahan

Catatan Kecil: Gambut dan Perubahan Iklim

Catatan Perkuliahan

Gambut dan Perubahan Iklim

Gambut merupakan salah satu faktor yang potensial dalam mempengaruhi perubahan iklim. Tanah gambut terdiri dari timbunan bahan organik yang belum ter-dekomposisi sempurna, sehingga menyimpan karbon dalam jumlah yang besar. Vegetasi yang tumbuh di atas tanah gambut dan membentuk ekosistem hutan rawa akan mengikat karbon-dioksida dari atmosfer melalui proses fotosintesis dan menambah simpanan karbon dalam ekosistem tersebut.

Perubahan Iklim

  • Merupakan fenomena global yang ditandai dengan perubahan suhu udara dan distribusi hujan, melalui proses yang berlangsung dalam jangka waktu yang panjang dan secara berangsur-angsur.
  • Terjadi disebabkan adanya peningkatan konsentrasi gas-gas di atmosfer yang memiliki kemampuan menyerap radiasi gelombang panjang yang bersifat panas.
  • Peningkatan tersebut menyebabkan keseimbangan radiasi berubah dan suhu bumi menjadi lebih panas.
  • Gas-gas tersebut dinamakan Gas Rumah Kaca (GRK) dan efek yang ditimbulkannya disebut Efek Rumah Kaca
  • Termasuk dalam GRK utama antara lain adalah karbon dioksida (CO2), metana CH4) dan nitrous oksida N2O).
  • GRK, terutama CO, meningkat secara tajam sejak jaman industri ketika manusia mulai banyak menggunakan bahan bakar fosil (BBF) 2 seperti minyak bumi, batubara, dan gas alam.
  • Beberapa hal yang akan terpengaruh secara langsung oleh terjadinya peningkatan suhu dan perubahan distribusi dan besaran curah hujan diantaranya adalah produktivitas tanaman, ketersediaan air, perkembangan hama dan penyakit tanaman, serta distribusi vektor penyakit manusia. Dalam jangka panjang ketahanan pangan dan air pun akhirnya akan terganggu.
Gambut Dan Perubahan Iklim,Perubahan Iklim,Gambut Sebagai Penyimpan Karbon,Gambut Sebagai Sumber Karbon

Gambut Sebagai Penyimpan Karbon

  • Lahan gambut tropis meliputi areal seluas 40 juta ha; 50% diantaranya terdapat di Indonesia (tersebar di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Papua) merupakan cadangan karbon terestrial yang penting.
  • Pembentukan gambut di berbagai pantai Indonesia dimulai sejak zaman glasial akhir sekitar 3.000-5.000 tahun yang lalu, sedangkan gambut pedalaman terbentuk sekitar 10.000 tahun yang lalu (Brady, 1997).
  • Gambut di Indonesia, seperti gambut tropis lainnya, dibentuk oleh akumulasi residu vegetasi tropis yang kaya akan kandungan lignin dan nitrogen.
  • Di ekosistem rawa gambut masih dapat dijumpai adanya potongan-potongan batang, cabang dan akar tanaman yang besar karena lambatnya proses dekomposisi.
  • Sebagian besar cadangan karbon lahan gambut terdapat di bawah permukaan berupa bahan organik yang telah terakumulasi selama ribuan tahun.
  • Secara global lahan gambut menyimpan sekitar 329 – 525 Gt C atau 15 – 35% dari total C terestrial ! Sekitar 86% (455 Gt) dari karbon di lahan gambut tersebut tersimpan di daerah temperate (Kanada dan Rusia) sedangkan sisanya sekitar 14% (70 Gt) terdapat di daerah tropis (Maltby dan Immirizi, 1993).
  • Jika diasumsikan bahwa kedalaman rata-rata gambut di Indonesia adalah 5 m, bobot isi 114 kg/m3 dan luasnya 16 juta ha, maka cadangan C di lahan gambut Indonesia adalah sebesar 46 Gt*.
  • Dalam kondisi alami, lahan gambut dapat meningkatkan kemampuannya dalam menyerap karbon.

*Catatan: 1 Gt = 102ton

Gambut Dan Perubahan Iklim,Perubahan Iklim,Gambut Sebagai Penyimpan Karbon,Gambut Sebagai Sumber Karbon

Gambut Sebagai Sumber Karbon

  • Jika mengalami gangguan, lahan gambut tidak hanya dapat menjadi sumber CO , tetapi juga GRK 2 lainnya seperti CH4, dan N2O.
  • Kegiatan penggunaan lahan, alih-guna lahan dan kehutanan (land use, land use change and forestry – LULUCF) adalah salah satu sumber (source) CO utama yang menyebabkan perubahan iklim 2 (IPCC, 2001).
  • Kegiatan LULUCF di daerah tropis menyumbangkan lebih dari 25% emisi CO2 total tahunan yang 2 selama dekade terakhir besarnya mencapai 8 Gt (IPCC, 2001).
  • Gangguan terhadap ekosistem lahan basah, berupa konversi lahan setelah hutan rawa gambut mengalami deforestasi, kebakaran dan drainase yang meluas, akan mempengaruhi cadangan dan siklus C.
  • Cadangan C yang besar ini yang menyebabkan tingginya jumlah C yang dilepaskan ke atmosfer ketika lahan gambut di Indonesia terbakar pada tahun 1997, yaitu berkisar antara 0,81-2,57 Gt (Page, 2002).
  • Pada kawasan lahan gambut di sekitar Taman Nasional Berbak, Sumatera, diduga besarnya emisi karbon adalah sebesar 7 juta ton C (Murdiyarso et al., 2002).
  • Pemeliharaan cadangan karbon dan peningkatan serapan C dapat dilakukan melalui kegiatan konservasi dan pengelolaan seperti pengayaan tanaman, dan pengelolaan air.